Apa Itu Key Performance Indicator (KPI)?

Posted on

Pada setiap organisasi, perusahaan, atau industri tertentu, ukuran kinerja wajib diciptakan untuk mengukur kemajuan yang udah dicapai. Pengukuran kinerja memiliki tujuan untuk menambah kemajuan organisasi kearah yang lebih baik.

Pada setiap organisasi, perusahaan, atau industri tertentu, ukuran kinerja wajib diciptakan untuk mengukur kemajuan yang udah dicapai. Pengukuran kinerja memiliki tujuan untuk menambah kemajuan organisasi kearah yang lebih baik. Identifikasi hasil (outcome) yang di idamkan dan sistem yang dikerjakan untuk mencapainya, sanggup membuahkan pengukuran kinerja yang berfungsi bagi organisasi.

Key Performance Indicator (KPI) atau disebut terhitung sebagai Key Success Indicator (KSI) adalah satu set ukuran kuantitatif yang digunakan perusahaan atau industri untuk mengukur atau memperbandingkan kinerja di dalam hal mencukupi target strategis dan operasional mereka. KPI beragam antar perusahaan atau industri, bergantung terhadap prioritas atau syarat-syarat kinerja.

KPI dibuat sehabis sebuah organisasi memiliki trick dan tujuannya. KPI menopang organisasi memastikan seberapa jauh kemajuan target yang udah dan bakal dicapainya. Menurut Darmin A. Pella (2008), sebuah indikator keberhasilan stratejik (strategic measures) yang baik wajib mencukupi unsur-unsur tersebut ini:

  1. Dapat jadi layanan perusahaan mengkomunikasikan strategi (ability of the organization to communicate their strategy for measures).
  2. Terkait secara langsung bersama trick yang dipilih perusahaan (the selected measure adequately focuses on the strategic issue).
  3. Indikator tersebut berbentuk kuantifitatif, memiliki formula khusus di dalam penghitungannya (quantifiable, can be evaluated objectively).
  4. Indikator tersebut sanggup dihitung (the measures are quantifiable, reliabled plus repeatable).
  5. Frekuensi pemutakhirannya bermanfaat (the frequency of updates are meaningfull).
  6. Penetapan target untuk perbaikan sanggup dilakukan (meaningful targets for improvement are established).
  7. Kemungkinan pembandingan bersama perusahaan lain sanggup dilakukan(external benchmarking is feasible and/or desirable).
  8. Pengukurannya tetap valid (validity of measures – not old unvalid measures).
  9. Data dan sumber energi tersedia (availability of data plus resources).
  10. Biaya pengukurannya tidak melebihi manfaatnya (cost of measures not more than benefit of measures).

Pengukuran suatu kinerja ada 2 (dua) tipe, yaitu indikator kinerjalag dan lead. Suatu indikator lag tanpa indikator lead tidak sanggup memberitahu informasi bagaimana hasil atau target bakal dicapai, atau memastikan bahwa ukuran yang dibuat udah cocok bersama target stratejik organisasi. Begitu terhitung bersama indikator lead tanpa indikator lag, cuma bersama indikator lead dapat fokus terhadap kinerja jangka pendek, tapi kita tidak bakal sanggup lihat hasil atau target organisasi secara besar atau jangka panjang udah dicapai. Indikator lead harus terlalu mungkin kita untuk mengambil alih tindakan pendahuluan untuk menambah kesempatan raih target strategis (Improving Skills Consulting).Indikator lead dapat diketahui sebelum akan efek terjadi, yang menyebutkan suatu kondisi dari sebuah proses. Indikator lag merupakan ukuran dari past performance dan diketahui sehabis efek terjadi. Berikut adalah contoh – Contoh KPI dari beraneka bidang:

1. KPI bidang HR/SDM

2. KPI bidang Marketing

3. KPI bidang Information Technology

4. KPI bidang Finance

5. KPI bidang Produksi

Salah satu perbedaan metode BSC (dibandingkan bersama metode lainnya) di dalam memilih KPI adalah KPI-KPI di dalam BSC ditentukan dari visi misi sampai pada strategy objective. Baru dari strategy objective ini sanggup diidentifikasikan KPI-KPI yang diperlukan. Jadi BSC lebih terhadap pendekatan top-bottom (heru.wordpress.com). Hal ini serupa bersama trick dagang perusahaan Jepang yang mengutamakan keperluan pangsa pasar lantas memilih biaya dan profit per produk daripada perusahaan Amerika yang produksi barang secara masal.

Penyusunan KPI terhadap organisasi profit lebih ringan dibandingkan bersama non-profit. Pada organisasi profit, pencapaian keuntungan dan jatah deviden lebih ringan diukur dengan financial scorecard diurutan paling depan. Visi misi dan hubungan antara organisasi dengan stakeholders dan shareholders-nya pun lebih jelas.

Sebaliknya, visi misi dan hubungan antara organisasi non-profit dengan stakeholders dan shareholders-nya kadang kala tidak jelas. Visi misi yang diusung pun sering berubah. Pengukuran per program lebih ringan daripada mengumpulkan secara organisasi. Dengan sosial dan penerima manfaat scorecard berada diurutan paling depan, wajib sanggup memastikan pengukuran dari informasi yang berbentuk kualitatif. Jika sosial dan penerima manfaat scorecard sukses dan selalu berkualitas, dan biaya per orang yang jalankan kegiatan atau biaya per non-program menurun dan efektif, maka jadi penilaian bernilai untuk investor atau penyandang dana. Mereka bakal berlomba-lomba jalankan investasi sosial untuk organisasi.

Pada akhirnya, penetapan KPI wajib dikerjakan bersama lihat keperluan organisasi raih hasil yang terbaik. KPI yang bagus tidak wajib di terapkan banyak pengukuran, tapi yang utama yang menopang target organisasi.