Siklus Tak Terputus dalam Komunikasi Pemasaran, Periklanan, dan Media Planning

Posted on

Iklan Bisnis Indonesia – Cukup susah untuk menentukan dimulai dari mana keterkaitan antara pemasaran, periklanan, dan media planning. Asumsi awal yang terbangun adalah adanya adanya jalinan ketiga elemen di atas dalam suatu proses yang saling terkait kegunaan menolong kesuksesan penjualan. Namun untuk memudahkan dalam menyadari jalinan pada tiga komponen di atas, maka pembahasan di bawah ini mencoba menyederhanakan masalah jadi dari rencana pemasaran,  kemudian periklanan, puncaknya bagaimana langkah menentukan media yang bakal digunakan dalam beriklan (media planning). Tentu saja bertemali bersama dengan dimensi-dimensi keterkaitan di dalamnya.

Pada dasarnya pemasaran adalah sebuah proses untuk mendistribusikan atau menjajakan produk/jasa ke dalam sebuah pasar. Atau sanggup dikatakan pemasaran adalah proses manajemen yang bertanggung jawab pada identifikasi, antisipasi, serta pemenuhan kebutuhan konsumen, dan dalam kala bersamaan, sekaligus menciptakan keuntungan bagi perusahaan.

Dalam praktiknya, pemasaran yang baik mesti dikomunikasikan sedemikian rupa supaya diperlukan proses komunikasi pemasaran untuk menyampaikan pesan dan mensosialisasikan eksistensi product ke kepada publik. Konsep yang digunakan dalam proses komunikasi pemasaran ini melibatkan—setidaknya—lima jenis kesibukan (promosi) yang biasa disebut sebagai bauran promosi (promotional mix), yaitu iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan penduduk dan publisitas (publicity plus public relation), serta pemasaran segera (direct marketing).

Salah satu unsur mutlak dalam pemasaran adalah periklanan yang terintegrasi melalui bauran pemasaran (marketing mix). Marketing mix merupakan trick pemasaran dari gabungan beraneka tahapan atau elemen yang diperlukan. Sejak step rencana hingga eksekusi atau pelaksanaan total operasi pemasaran.

Dari sinilah kemudian muncul rencana 4P yaitu product (produk), place (tempat), price (harga), dan promotion (promosi). Periklanan dalam hal ini jadi elemen promosi yang paling mendasar. Dengan kata lain komunikasi pemasaran tanpa bantuan periklanan niscaya tak bakal mempunyai power untuk menarik minat publik sebagai sasaran komunikasi. Persoalannya untuk  mobilisasi fungsi pemasarannnya, periklanaan tidak cuman memberi tambahan Info kepada khalayak, tetapi terhitung mesti sanggup memprovokasi, membujuk khalayak untuk berperilaku sedemikian rupa sesuai bersama dengan trick pemasaran perusahaan untuk mencetak penjualan dan keuntungan. Intinya periklanan mesti sanggup mempengaruhi pemilihan dan ketetapan kastemer (Jefkins,1997: 15).

Terkait bersama dengan periklanan ini, setidaknya ada enem elemen basic yang menjadikan suatu kesibukan pemasaran disebut periklanan. Pertama, periklanan adalah wujud komunikasi yang dibayar. Kedua, terjadi proses identifikasi sponsor. Dalam iklan tak hanya disampaikan kehebatan product yang dityawearkan, terhitung disertai pesan supaya kastemer menyadari perihal perusahaan yang memproses product yang ditawarkan itu. Ketiga, upaya membujuk dan mempengaruhi konsumen. Keempat, periklanan perlu elemen media massa sebagai media penyampai pesan. Kelima adalah pembawaan nonpersonal sebagai akibat digunakannya media massa yang notabene jadi sarana  massifikasi pesan kepada penduduk luas. Dan keenam adalah audiens. Inilah yang kemudian disebut sebagai sasaran pesan atau tujuan audines.

Salah satu poin tepenting dari unsur-unsur atau elemen penyusun kesibukan periklanan adalah usaha untuk memanfaatkan media massa sebagai penyampai pesan karena tanpa dimediasi oleh alat yang satu ini, proses komunikasi bakal kehilangan ruhnya. Dari sinilah kemudian muncul konsekuensi; bagaimana kita menentukan media yang sesuai bersama dengan pesan yang bakal kita sampaikan. Karena pada prinsipnya sampainya tujuan atau sasaran yang dibidik terkait dari media yang dipilih dan kemudian digunakan.

Pesan iklan untuk product yang dimaksudkan bagi grup kastemer kelas menengah misalnya, tidak bakal hingga kepada grup sasarannya kecuali pesan tersebut disampaikan melaui media yang tidak dulu jadi perhatian mereka. Contoh riil; iklan mobil mewah ditampilkan di surat kabar yang isinya cuma memblow-up kasus-kasus kriminal seperti Pos Kota, Lampu Merah, atau Galamedia.

Pemilihan media yang pas mesti memperhitungkan banyak aspek sebagai bahan pertimbangan. Seperti keterlibatan kastemer dalam proses pembelian, grup pendengar radio, grup pirsawan televisi, pembaca surat kabar, pembaca majalah, jangkauan media, biaya, spesifikasi media tadisional (media massa), non traditional media (media sosial), media lini atas–bawah dan masih banyak lagi kategori yang lain. Intinya banyak aspek yang mesti jadi pertimbangan dalam mengeksekusi media dalam menyiarkan iklan.

Komunikasi pemasaran di dukung unsur-unsur 4P bakal jadi sebuah wujud komunikasi yang efisien karena dalam kompleksitas masalah yang dihadapi, tidak cukup memanfaatkan satu elemen saja. Misal periklanan dalam praktiknya terhitung mesti di-back up dengan public relations, sales promotion, direct marketingdan sebagainya sebgai bentuk-bentuk alternatif.

Pun demikian halnya bersama dengan media planning, dalam praktinya terhitung senantiasa terintegrasi bersama dengan komunikasi pemasaran. Ada dua skenario yang menceritakan keterkaitan tersebut. Skenario pertama, komunikasi pemasaran yang terintegrasi sanggup memberi efek pada media dan rencana media bersama dengan dua alasan: 1. Jika rencana bauran promosi diterapkan bakal mensyaratkan pemilihan media yang berbeda. Misalnya, kecuali cuma digunakan periklanan, barangkali syaratnya cukup cuma bersama dengan memanfaatkan media massa. Namun jikalau ditambahkan elemen yang lain, layaknya PR, sales promotion, direct marketing atau kombinasinya maka bakal sebabkan kompleksitas masalah yang tidak sanggup dipisahkan pada satu metode bersama dengan metode yang lain dalam hubungannya bersama dengan pemilihan media, 2. Kompleksitas masalah bakal mencuat kala pemanfaatan media dan banyaknya variasi menimbulkan kebingungan bagi konsumen.

Skenario yang lain untuk media tertentu, majalah misalnya, mesti mempunyai editor khusus supaya bahasa pemasaran sanggup mempengaruhi kehidupan pembacanya melalui product yang ditawarkan, tak cuma untuk diketahui saja. Karena itu ilmu perihal psikografik, demografik mesti dimiliki media planner bersama dengan melibatkan pengiklan.